Pendidikan Keluarga Pendidikan keluara atau pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga. Pendidikan informal adalah suatu proses pembelajaran yang terjadi di kehidupan sehari-hari di dalam keluarga terdekat. Sebagai orang tua atau orang dekat lainnya di dalam keluarga itu mengenalkan nama benda-benda dan cara mengucapkan yang benar, cara makan minum yang benar, cara menghormati orang, cara menulis, cara menggambar dan cara beribadah dan sebagainya untuk dasar anak memasuhi dunia formal (sekolah dan masyarakat) nantinya. Pada prinsipnya pendidikan dalam keluarga adalah untuk membantu anak bagaimana belajar Pendidikan dalam keluarga lebih menonjolkan bagaimana kita mengajar diri kita sendiri, dimana kita cenderung untuk berbicara dan bergabung dalam kegiatan dengan orang lain di sekitar anak, dan ini berlangsung secara tidak sadar dalam waktu selama pergaulan dengan anak terjadi, mulai dari anak bangun sampai akan tidur didengarkan cerita dan nyanyian yang mengandung nilai pendidikan sebagai bekal anak nemasuki dunia formal. Pendidikan informal adalah suatu pergaulan yang berlangsung alami, dimana keluarga menempatkan diri sesuai dengan “ikatan” perasaan yang sedang berlangsung dengan anak, di mana pada situasi ini keluarga mencari posisi yang tepat untuk diterima anak dengan baik. Langeveld menyatakan, tiap-tiap pergaulan antara orang dewasa (orang tua) dengan anak adalah merupakan lapangan atau suatu tempat di mana pekerjaan mendidik itu berlangsung. Pendidikan itu merupakan suatu gejala yang terjadi di dalam pergaulan antara orang dewasa dengan orang yang belum dewasa. Dengan cara pergaulan seharihari, anak merasa dirinya dibawa kepada kedewasaan oleh orang dewasa dan keadaan seperti itu merupakan gejala-gejala pendidikan, baik di dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat dan pergaulan semacam itulah yang disebut pergaulan paedagogis. Syarat pergaulan paedagogis menurut Langeveld adalah: 1) Pergaulan antara anak dengan orang dewasa, 2) Di dalam pergaulan ada pengaruh, 3) Ada maksud tujuan secara sadar untuk anak ke arah kedewasaannya. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga. Hasbullah (2003) menegaskan bahwa tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain. Di dalam pasal 1 UU Perkawinan Nomor I tahun 1974, dinyatakan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera, berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Anak yang lahir dari perkawinan ini adalah anak yang sah dan menjadi hak serta tanggung jawab kedua orang tuanye nemelihara dan mendidiknya, dengan sebaik-baiknya. Kewajiban kedua orang tua mendidik anak ini terus berlan jut sampai ia dikawinkan atau dapat berdiri sendiri, bah kan menurut pasal 45 ayat 2 UU perkawinan ini, kewajibai dan tanggung jawab orang tua akan kembali apabila perkawinan antara keduanya putus karena suatu hal, mak anak ini kembali menjadi tanggung jawab orangtua. Menurut Azmi Ulfia Farista (2008) fungsi lembaga pendidikan keluarga, yaitu: 1. Merupakan pengalaman pertama bagi masa kanak-kanak, pengalaman ini merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangna berikutnya, khususnya dalam perkembangn pribadinya. Kehidupan keluarga sangat penting, sebab pengalaman masa kanak-kanak akan memberi warna pada perkembangan berikutnya. 2. Pendidikan di lingkungan keluarga dapat menjamin kehidupan emosional anak u n t u k t umb u h d a n berkembang, kehidupan emosional ini sangat penting dalam pembentukan pribadi anak. Hubungan emosional yang kurang dan berlebihan akan banyak merugikan perkembangan anak. 3. Di da l am k e lua r g a a k a n terbentuk pendidikan moral. Keteladanan orng tua didalam bertutur kata dan berprilaku sehari-hari akan menjadi wahana pendidikan moral bagi anak didalam keluarga tersebut, guna membentuk manusia susila. Pendapat di atas berati pendidikan keluarga memberikan warna dasar (ketauhidan), dasar kehidupan emosi, dan dasar kehidupan moral ? 1) Ketauhidan (Pahan Ketuhanan) Dalam ajaran Islam pertama yang diterima anak adalah paham ketauhidan. Abdul Wahab (2007) menjelaskan baha tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang dilakukan. Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah; bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud (keberadaan) Nya, dan wahdaniyah (keesaan) Nya, dan bukan pula sekedar mengenal Asma’ dan Sifat- Nya. Tauhid adalah pemurnian ibadah kepada Allah. Maksudnya yaitu: menghambakan diri hanya kepada Allah secara murni dan konsekwen dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan- Nya, dengan penuh rasa rendah diri, cinta, harap dan takut kepada-Nya. 2.) Kehidupan Emosional Emosi, berasal dari kata Inggris, emotion, yang berakar dari kata “Emotus” atau “Emovere” atau mencerca (To still up) yang berarti sesuatu yang mendorong terhadap sesuatu. Misalnya emosi gembira mendorong untuk tertawa. Istilah lazim yang digunakan dalam psikologi dan umum, yang mengacu pada reaksi kompleks dari suatu organisme ke objek atau peristiwa yang signifikan, dengan subjektif, perilaku, unsur-unsur fisiologis. Akar paling awal kecerdasan emosional dapat ditelusuri karya Darwin yaitu melalui ekspresi emosional untuk kelangsungan hidup dan adaptasi. Istilah "Emotional Intelligence, kecerdasan emosional" - selanjutnya disebut kecerdasan emosi pertamakali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire. Kecerdasan ini berhubungan dengan kualitas-kualitas psikologis tertentu yang oleh Salovey dikelompokkan ke dalam lima karakter kemampuan: (1) Mengenali emosi diri; wilayah ini merupakan dasar kecerdasan emosi. Penguasaan seseorang akan hal ini akan memiliki kepekaan atas pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi. (2) Mengelola emosi; kecerdasan emosi seseorang pada bagian ini ditunjukkan dengan kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan sehingga dia dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan (3) Memotivasi diri sendiri; kecerdasan ini berhubungan dengan kamampuan seseorang dalam membangkitkan hasrat, menguasai diri, menahan diri terhadap kepuasan dan kecemasan. Keberhasilan dalam wilayah ini akan menjadikan seseorang cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apa pun yang mereka kerjakan. (4) Mengenali emosi orang lain. Berkaitan erat dengan empati, salah satu kecerdasan emosi yang merupakan "keterampilan bergaul" dasar. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain. (5) Membina hubungan. Seni membina hubungan, menuntut kecerdasan dan keterampilan seseorang dalam mengelola emosi orang lain. Sangat diperlukan untuk menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar pribadi. Selanjutnya Goleman, Danile, pada tahun 1998 menerbitkan sebuah buku dengan judul Emotional Intelligence, yang telah diterjenamhkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul: Kecerdasan Emotional, Mengapa EI lebih penting dari IQ, oleh PT Gramedia Pustaka Utama.Daniel Goleman (1998) mendefenisikan emosi sebagai s u a t u k e a d a a n g e j o l a k penyesuaian diri yang berasal dari dalam dan melibatkan hampir keseluruhan dari individu (Daniel Goleman, 1999). Dari hasil penelitiannya Daniel Goleman menyebutkan bahwa kecerdasan emosi jauh lebih berperan ketimbang IQ atau keahlian dalam menentukan siapa yang akan jadi bintang dalam suatu pekerjaan. Goleman (1998) memperkuat bahwa perilaku-perilaku menyimpang yang disebabkan oleh rendahnya kecerdasan emosional (Emotional Intelligence) mereka berkaitan dengan ketidakmatangan kondisi psikologis yang bersangkutan dalam hal: memotivasi diri dan bertahan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir; berempati dan berdoa. Dengan kata lain, perilaku menyimpang baik dari para remaja (termasuk mahasiswa) maupun kaum profesional (guru) mengindikasikan betapa rendahnya Kecerdasan Emotional mereka. Dari sejumlah penelitian yang telah dilakukannya Goleman berkesimpulan bahwa kesuksesan karir seseorang 8 0% ditentukan oleh kecerdasan emosi (EQ)-nya.,bahkan terbukti bahwa kecerdasan pikiran (IQ) atau kecerdasan akad emi s semata-mata praktis tidak menawarkan persiapan untuk menghadapi gejolak yang d i t i m b u l k a n o l e h kesulitan-kesulitan hidup. Oleh karenanya, ia mengingatkan bahwa dalam ins t i tus i pendidikan (formal maupun informal) perlu dibangun suatu mekanisme yang cukup efektif dalam menciptakan kondisi emosional yang kondusif. "Emosi" menurut Oxford English Dictionary, adalah setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu; setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap. Ada dua macam emosi yang kita kenal, yaitu: "emosi negatif" dan "emosi positif". Untuk bisa menjalani kehidupan dengan kegembiraan, kebahagiaan yang dinamis di sepanjang hidup, maka harus bisa mengatur dan mengendalikan "emosi Anda". Ada enam tahapan perkembangan emosi yang harus dilalui seorang anak. Pengalaman emosional yang sesuai pada tiap tahap merupakan dasar perkembangan kemampuan koginitif, sosial, emosional, bahasa, keterampilan dan konsep dirinya di kemudian hari. Tahapan tersebut saling berkesinambungan, tahapan yang lebih awal akan mempersiapkan tahapan selanjutnya. Anak-anak yang diasuh dengan kehangatan dan tidak mengalami gangguan perkembangan biasanya akan mencapai tahapan terakhir secara otomatis pada usia 4-5 tahun, namun anak-anak dengan kebutuhan khusus membutuhkan bantuan dari orang tua dan profesional untuk bisa mencapainya dengan lebih perlahan. Kapan / pada usia berapa tercapainya bukan merupakan hal yang penting bila dibandingkan bagaimana pencapaiannya. 1. Menunjukkan minat terhadap berbagai rangsang dalam lingkungan sedikitnya selama 3 detik; 2. Bisa tenang dan terfokus pada sesuatu sedikitnya 2 menit 3. Pulih dari kondisi tidak menyenangkan dalam 20 menit dengan bantuan 4. Menunjukkan minat terhadap pengasuh, tidak hanya terhadap benda Emosi berperanan banyak dalam proses berpikir, yaitu * mengarahkan aksi dan tingkah laku * memungkinkan mengontrol tingkah laku * memberi arti terhadap pengalaman * menyimpan, mengorganisasi dan mengingat kembali pengalaman * menggagas pengalaman baru * memecahkan masalah * berpikir kreatif, selektif, logis, tidak idiosinkretik (aneh) * memahami kalimat lisan maupun tulisan ('rasa' bahasa) * memahami konsep kuantitas, waktu, ruang, sebab-akibat yang bersifat 'relatif * membentuk konsep diri, pengertian atas diri (dengan membandingkan * perasaan dengan situasi yang dialaminya) * memisahkan realitas dan fantasi * mengendalikan tingkatan perkembangan emosi, sosial dan intelektual. 3. Kehidupan Moral Anak Dalam kehidupan sehari-hari, selain istilah moral , juga ada istilah etika. Moral adalah pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradap. Moral juga berarti ajaran yang baik dan buruk perbuatan dan kelakuan (akhlak). Moral berasal dari kata mores yang berasal dari Bahasa Latin ( Wursanto, 1987), yang dapat terjemahkan menjadi “aturan kesusilaan”. Dalam bahasa sehari-hari yang dimaksud dengan kesusilaaan bukan pula mores tetapi petunjuk-petunjuk untuk kehidupan sopan santun, dan tidak cabul. Jadi moral adalah aturan kesusilaan, yang meluputi semua norma untuk kelakukan, perbuatan untuk tingkah laku yang baik. Selain itu dikenal juga istilah susila yang berasal dari Bahasa Sansekerta, su artinya lebih baik, sila artinya berarti dasar-dasar dan perinsip-perinsip atau peraturan-peraturan hidup. Jadi susila berarti peraturan-peraturan hidup yang lebih baik. Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya seperti yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg. Tahapan tersebut dibuat saat ia belajar psikologi di University of Chicago berdasarkan teori yang ia buat setelah terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi anak-anak terhadap dilema moral. Ia menulis disertasi doktornya pada tahun 1958 yang menjadi awal dari apa yang sekarang disebut tahapan-tahapan perkembangan moral dari Kohlberg. Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget, yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan, walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya. Langeveld (dalam Aqib, 2007) mengatakan bahwa pendidikan harus diarahkan kepada upaya membantu peserta didik untuk sampai pada penentuan diri secara susila dalam satu orde moral. Pendidikan merupakan pembentukan hatu nurani, upaya membimbing, menuntun dan membawa peserta didik para taraf kedewasaan yang erat kaitannya dengan arti/ makna hidup, tujuan hidup, pengenalan nilainilai dan norma-norma, serta tanggung jawab secara susila. K o h l b e r g m e n g g u n a k a n ceritera-ceritera tentang dilema moral dalam penelitiannya, dan ia tertarik pada bagaimana orang-orang akan menjust i f ikasi tindakan-tindakan mereka bila mereka berada dalam persoalan moral yang sama. Kohlberg kemudian mengkatego r i sas i dan mengklasifikasi respon yang dimunculkan ke dalam enam tahap yang berbeda. Keenam tahapan tersebut dibagi ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Teorinya didasarkan pada tahapan perkembangan konstruktif; setiap tahapan dan tingkatan memberi tanggapan yang lebih adekuat terhadap dilema-dilema moral dibanding tahap/tingkat sebelumnya. Keenam tahapan perkembangan moral dari Kolhlberg dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Mengikuti persyaratan yang dikemukakan Piaget untuk suatu Teori perkembangan kognitif, adalah sangat jarang terjadi kemunduran dalam tahapan-tahapan ini. Walaupun demikian, tidak ada suatu fungsi yang berada dalam tahapan tertinggi sepanjang waktu. Juga tidak dimungkinkan untuk melompati suatu tahapan; setiap tahap memiliki perspektif yang baru dan diperlukan, dan lebih komprehensif, beragam, dan terintegrasi dibanding tahap sebelumnya. Tingkat 1 (Pra-Konvensional) 1. Orientasi kepatuhan dan hukuman 2. Orientasi minat pribadi (Apa untungnya buat saya?) Tingkat 2 (Konvensional) 3. Orientasi keserasian interpersonal dan konformitas (Sikap anak baik) 4. Orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial (Moralitas hukum dan aturan) Tingkat 3 (Pasca-Konvensional) 5. Orientasi kontrak sosial 6. Prinsip etika universal (Principled conscience)